Pages

Rabu, 17 November 2010

ACEH - Benteng Indra Patra


Benteng Indra Patra adalah salah satu situs sejarah berharga di Aceh. Banyak cerita sejarah terjadi di benteng ini. Cerita heroik, intrik, perlawanan dan pemberontakan. Benteng yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, jalan Krueng Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Kr Raya.

Benteng ini berukuran besar dengan konstruksi kokoh, berarsitektur unik, terbuat dari beton kapur. Saat ini jumlah benteng yang tersisa hanya dua, itu pun pintu bentengnya telah hancur terkena tsunami. Pada awalnya ada tiga bagian besar benteng yang tersisa. Benteng yang paling besar berukuran 70 x 70 meter dengan ketinggian 3 meter lebih. Ada sebuah ruangan yang besar dan kokoh berukuran 35 x 35 meter dan tinggi 4 meter. Rancangan bangunannya terlihat begitu istimewa dan canggih, sesuai pada masanya karena untuk mencapai bagian dalam benteng, harus dilalui dengan memanjat terlebih dahulu.

Benteng Indra Patra dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam di Aceh, yaitu pada abad ke tujuh Masehi. Benteng ini dibangun dalam posisi yang cukup strategis karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka, sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis. Pada masa Sultan Iskandar Muda, dengan armada lautnya yang kuat dibawah pimpinan Laksamana Malahayati, sebagai laksamana wanita pertama di dunia, benteng ini digunakan sebagai pertahanan kerajaan Aceh Darussalam.



ENGLISH


Benteng Indra Patra is one of the valuable historical sites in Aceh. Many stories of history happened in this castle. Heroic story, intrigue, resistance and rebellion. The fortress is located in the Grand Mosque District, road Krueng Raya, about 19 km from Banda Aceh, to the Port of Krueng Raya.

The fort is large with sturdy construction, unique architecture, made of lime concrete. Currently, the only remaining castle of two, it was the door of the castle has been destroyed by the tsunami. In the beginning there are three major parts remaining stronghold. The largest fort measures 70 x 70 meters with a height of 3 meters more. There is a large room-sized and sturdy 35 x 35 meters and height of 4 meters. The design of the building looks so special and sophisticated, according to its time due to reach the inside of the castle, must be passed to climb first.

Benteng Indra Patra built by the Kingdom Lamuri, the first Hindu kingdom in Aceh (Indra Patra) in the period before the arrival of Islam in Aceh, namely in the seventh century AD. The fort was built in a strategic position of dealing directly with the Strait of Malacca, which serves as a bastion of the Portuguese attack. At the time of Sultan Iskandar Muda, with a strong marine fleet under the command of Admiral Malahayati, as the first female admiral in the world, the castle was used as a defense of the kingdom of Aceh Darussalam

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More